Perjalanan keluarga ini bermula dari Kota Blitar pada Sabtu malam, 27 Desember 2025, tepat pukul 20.30 WIB. Dengan niat menikmati perjalanan sekaligus ziarah dan tadabbur alam, kami memulai perjalanan panjang menuju Pulau Madura, pulau yang selama ini dikenal dengan kekhasan budaya, keteguhan religiusitas, dan panorama pesisirnya.
Singgah Spiritual di Surabaya
Perjalanan malam membawa kami menuju Surabaya, yang kami capai sekitar pukul 03.30 WIB, Ahad 28 Desember 2025. Waktu subuh kami manfaatkan untuk singgah di Masjid Ampel, menunaikan salat Subuh berjamaah, sekaligus ziarah ke makam Sunan Ampel. Suasana religius yang kental di kawasan Ampel menjadi pembuka perjalanan yang penuh makna, memberikan ketenangan sebelum melanjutkan perjalanan panjang.
Usai dari Ampel, perjalanan diteruskan menuju Pulau Madura dengan melewati Jembatan Nasional Suramadu. Pemandangan pagi hari dari atas jembatan menjadi pengalaman tersendiri—laut yang membentang luas seolah menyambut kami memasuki Madura.
Bangkalan: Ziarah Syaikhona Kholil
Tujuan pertama di Madura adalah Makam Syaikhona Muhammad Kholil di Bangkalan, salah satu ulama besar yang memiliki peran penting dalam sejarah keilmuan dan perjuangan Islam di Nusantara. Ziarah di tempat ini menghadirkan suasana khusyuk dan reflektif, mengingatkan kami akan besarnya peran ulama dalam membangun peradaban.
Menyusuri Jalur Utara Madura
Dari Bangkalan, perjalanan dilanjutkan mengitari Pulau Madura melalui jalur utara, menyusuri wilayah pesisir. Rute Bangkalan – Sampang – Pamekasan – Sumenep kami lalui dengan penuh kekaguman. Sepanjang perjalanan, mata dimanjakan oleh pemandangan laut yang indah, jalanan pesisir yang aspalnya mulus dan tertata baik, serta angin laut yang menemani setiap kilometer perjalanan.
Kami tiba di Sumenep sekitar pukul 20.00 WIB (28 Desember 2025). Malam itu dimanfaatkan untuk beristirahat di Alun-Alun Kota Sumenep, menikmati suasana kota tua yang tenang namun hidup, sekaligus melepas lelah setelah perjalanan panjang dari Blitar.
Kembali Lewat Jalur Selatan
Perjalanan pulang kami tempuh melalui jalur selatan Pulau Madura. Dari Sumenep, kami bergerak menuju Pamekasan dan tiba di Alun-Alun Pamekasan sekitar pukul 01.00 WIB, Senin 29 Desember 2025. Setelah beristirahat sejenak, perjalanan dilanjutkan ke Sampang, dan kami tiba di Alun-Alun Sampang sekitar pukul 10.00 WIB.
Dari Sampang, perjalanan kembali menuju Bangkalan, lalu menyeberang lagi ke Surabaya melalui Jembatan Suramadu. Di Surabaya, kami menyempatkan singgah di Taman Flora untuk beristirahat, sebelum melanjutkan perjalanan ke Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya. Salat Maghrib berjamaah di masjid megah ini menjadi penutup yang menenangkan sebelum perjalanan pulang.
Kembali ke Blitar dengan Kesan Mendalam
Perjalanan pulang menuju Blitar kami tempuh melalui rute Surabaya – Sidoarjo – Pasuruan – Malang, dan akhirnya tiba di Blitar sekitar waktu Subuh, pukul 03.30 WIB, Selasa 30 Desember 2025.
Salah satu kesan paling kuat dari perjalanan ini adalah kenyataan bahwa Pulau Madura memiliki banyak masjid besar dengan fasilitas yang sangat baik, tertata rapi, bersih, dan sesuai dengan standar nasional bahkan internasional. Hal ini menunjukkan kuatnya tradisi keislaman masyarakat Madura yang berpadu dengan kesadaran akan pengelolaan fasilitas publik yang modern dan representatif.
Perjalanan mengitari Pulau Madura ini bukan sekadar wisata keluarga, tetapi juga perjalanan spiritual, budaya, dan refleksi, yang meninggalkan kenangan indah serta pelajaran berharga tentang religiusitas, keteguhan tradisi, dan keindahan alam Nusantara.
Berikut dokumentasi yang berhasil dihimpun

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)

.jpeg)

.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)

.jpeg)

.jpeg)

.jpeg)

.jpeg)


.jpeg)
.jpeg)


.jpeg)
.jpeg)




.jpeg)


































.jpeg)







.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)




0 Komentar