Kota Blitar, 7 Juni 2026 – Ratusan jamaah Nahdliyin mengikuti kegiatan Ngaji Bareng PCNU Kota Blitar yang rutin diselenggarakan setiap Ahad Kliwon di Kantor PCNU Kota Blitar. Pada kesempatan kali ini, pengajian diisi oleh KH Abdil Karim Muhaimin yang membahas materi dari kitab cetak halaman 25, Pasal 10: Tanda-Tanda Hari Kiamat (Amārāt Iqtirāb as-Sā‘ah).
Dalam kajiannya, beliau menjelaskan bahwa tanda-tanda hari kiamat telah banyak disebutkan dalam hadis-hadis Rasulullah SAW. Salah satu tanda yang disampaikan adalah semakin berkurangnya orang yang mau saling membantu dan menguatkan dalam urusan agama.
Teks kitab menyebutkan:
> "Tanda-tanda hari kiamat cukup banyak, di antaranya hilangnya penolong dan pembantu dalam agama."
Hal tersebut didasarkan pada sabda Nabi Muhammad SAW:
> “Akan datang pada manusia suatu masa, di mana orang yang sabar mempertahankan agamanya bagaikan orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi)
Menurut KH Abdil Karim Muhaimin, hadis ini menggambarkan kondisi akhir zaman ketika menjalankan ajaran agama dengan istiqamah menjadi sesuatu yang berat. Seorang muslim yang berusaha menjaga akidah, ibadah, dan akhlaknya sering kali menghadapi berbagai tantangan, baik dari lingkungan sosial maupun perkembangan zaman.
Ahli Ibadah yang Bodoh dan Pembaca Al-Qur’an yang Fasik
Tanda lain yang dijelaskan dalam pengajian tersebut adalah munculnya fenomena banyaknya ahli ibadah yang tidak memiliki pemahaman agama yang memadai, serta para pembaca atau penghafal Al-Qur’an yang tidak mengamalkan ajaran yang mereka baca.
Dalam kitab disebutkan hadis:
> “Akan ada di akhir zaman ahli ibadah yang bodoh dan para pembaca Al-Qur’an yang fasik.” (HR. al-Hakim dan Abu Nu’aim)
KH Abdil Karim Muhaimin menegaskan bahwa ilmu dan amal harus berjalan beriringan. Ibadah tanpa ilmu dapat menjerumuskan seseorang pada kesalahan, sedangkan ilmu yang tidak diamalkan hanya akan menjadi pengetahuan yang tidak memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun masyarakat.
Beliau juga mengingatkan pentingnya belajar agama melalui para ulama yang memiliki sanad keilmuan yang jelas agar pemahaman yang diperoleh tetap sesuai dengan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.
Dalam kesempatan tersebut turut disinggung sosok ulama besar yang menjadi salah satu perawi hadis di atas, yaitu Imam Abu Nu'aim Al-Isfahani. Beliau merupakan seorang ulama hadis bermadzhab Syafi'i yang terkenal melalui karya monumentalnya Hilyatul Auliya' wa Thabaqatul Ashfiya'.
Imam Abu Nu’aim Al-Isfahani wafat pada tahun 430 Hijriah atau sekitar 1038 Masehi. Karyanya hingga kini masih menjadi salah satu rujukan penting dalam kajian hadis, sejarah ulama, dan tasawuf.
Melalui pengajian rutin Ahad Kliwon ini, para jamaah diajak untuk tidak hanya mengetahui tanda-tanda kiamat, tetapi juga mempersiapkan diri dengan memperkuat iman, memperdalam ilmu agama, memperbanyak amal saleh, serta menjaga persaudaraan sesama muslim.
Pengajian yang berlangsung khidmat tersebut menjadi sarana bagi warga Nahdliyin untuk terus menambah wawasan keislaman sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah berbagai tantangan kehidupan modern. Dengan memahami tanda-tanda akhir zaman, umat Islam diharapkan semakin meningkatkan ketakwaan dan kesiapan menghadapi kehidupan yang hakiki di akhirat kelak.





0 Komentar