Semangat 1 Abad NU Menggema di Kampus 2 Srengat
Blitar – Semangat peringatan 1 Abad Nahdlatul Ulama tidak hanya dirayakan dengan refleksi sejarah dan doa, tetapi juga diwujudkan melalui langkah nyata menuju masa depan. Himpunan Mahasiswa Ilmu Komputer Universitas Nahdlatul Ulama Blitar (HIMAKOM UNU Blitar) menggelar Green Tech Competition 2026, sebuah lomba teknologi berbasis Internet of Things (IoT) bertema “Smart Environment: Solusi Teknologi untuk Lingkungan Berkelanjutan”.
Kegiatan yang digelar di Kampus 2 Srengat UNU Blitar ini menjadi ruang lahirnya inovasi muda dari siswa SMA/SMK/MA se-Blitar Raya. Lomba ini bukan sekadar kompetisi, tetapi panggung bagi generasi muda untuk membuktikan bahwa teknologi dapat menjadi sahabat bumi.
Dalam rangka menjaga kualitas dan objektivitas penilaian, panitia secara resmi mengundang Bapak Abdullah Umar, M.Pd. sebagai juri Lomba IoT. Undangan tersebut tertuang dalam surat resmi bernomor 03.005/HIMAKOM-UNUBLT/II/2026 tertanggal 12 Februari 2026.
Kehadiran beliau diharapkan mampu memberikan penilaian yang profesional sekaligus inspiratif bagi para peserta yang telah bekerja keras merancang purwarupa teknologi ramah lingkungan.
Teknologi untuk Menjaga Bumi
Dalam lomba ini, setiap tim yang terdiri dari dua siswa ditantang untuk merancang dan membangun prototype perangkat IoT yang mampu:
- Memantau kondisi lingkungan
- Mengelola permasalahan lingkungan
- Memberikan solusi nyata berbasis data sensor
Peserta bebas menggunakan berbagai mikrokontroler seperti Arduino, ESP32, ESP8266, hingga Raspberry Pi. Data yang dihasilkan wajib ditampilkan melalui dashboard digital seperti Blynk, ThingSpeak, Antares, atau dashboard buatan sendiri.
Tidak hanya sekadar alat, peserta juga diwajibkan menyusun diagram blok sistem yang jelas dan menunjukkan manfaat konkret bagi masyarakat.
Proses lomba berlangsung secara terstruktur:
- 26 Januari – 5 Februari 2026: Pengerjaan karya secara mandiri
- 6 – 9 Februari 2026: Pengumpulan laporan melalui Google Form
- 14 Februari 2026: Pelaksanaan event dan presentasi di Kampus 2 Srengat
Pada hari pelaksanaan, setiap tim diberikan waktu maksimal 30 menit, terdiri dari 15 menit presentasi dan 15 menit sesi tanya jawab bersama dewan juri.
Live demo menjadi momen paling menegangkan. Peserta harus membuktikan alatnya bekerja secara nyata dan stabil, bahkan ketika diuji berulang kali oleh juri.
Penilaian dilakukan secara komprehensif dengan total skor maksimal 100 poin. Aspek yang dinilai meliputi:
- Inovasi dan kreativitas ide
- Fungsi dan kegunaan alat
- Desain dan implementasi hardware serta dashboard
- Teknologi dan keamanan sistem
- Presentasi dan keberhasilan demo
Nilai tambahan diberikan bagi sistem yang memiliki fitur monitoring dan notifikasi otomatis (email/WhatsApp/Telegram), dashboard yang ramah pengguna, serta dampak nyata dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan.
Lomba ini menjadi bukti bahwa semangat Nahdlatul Ulama di abad kedua tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga merangkul inovasi. Teknologi tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang jauh dari nilai-nilai keislaman, melainkan sebagai alat untuk menjaga amanah Allah berupa lingkungan hidup.
Di tangan generasi muda Blitar Raya, sensor-sensor kecil dan baris-baris kode program menjelma menjadi harapan besar: udara yang lebih bersih, lingkungan yang lebih sehat, dan masa depan yang lebih berkelanjutan.
Green Tech Competition 2026 bukan hanya lomba.
Ia adalah gerakan.
Ia adalah pesan bahwa menjaga bumi adalah bagian dari ibadah.
Dan di Kampus 2 Srengat hari itu, masa depan sedang dirakit—baris demi baris kode, sensor demi sensor.













0 Komentar