Blitar — Saat malam mulai menurunkan sunyinya dan lantunan azan Isya’ baru saja usai, satu per satu langkah kaki jamaah terdengar menyusuri Gang Mataraman, Kepanjenkidul, Kota Blitar. Dengan wajah teduh dan niat yang sama, puluhan jamaah laki-laki dari RW 5 dan RW 6 berkumpul di kediaman Bapak Anis, menghadiri kegiatan rutin Yasinan Jamaah Al-Ikhlas, Kamis malam, 5 Februari 2026.
Digelar tepat pukul 19.00 WIB ba’da Isya’, kegiatan ini bukan sekadar rutinitas mingguan. Ia menjadi ruang spiritual, tempat doa-doa dipanjatkan, silaturahmi dirajut, dan keikhlasan diperteguh. Di rumah sederhana sang shohibul bait, suasana khidmat perlahan menyelimuti jamaah yang duduk bersila, bersiap menyambut lantunan ayat-ayat suci.
Acara dipandu dengan penuh ketenangan oleh Bapak Agus Irianto selaku MC sekaligus pembaca arwah. Dengan suara lirih namun sarat makna, nama-nama yang telah berpulang didoakan bersama, menghadirkan rasa haru dan kesadaran akan hakikat kehidupan yang fana.
Lantunan Surat Yasin kemudian menggema, dibacakan oleh Bapak Khoirus Salis (Ruli). Ayat demi ayat mengalir perlahan, menyentuh relung hati para jamaah. Dalam diam, bibir bergetar, kepala tertunduk, dan hati larut dalam pengharapan akan rahmat dan ampunan Allah SWT.
Suasana semakin syahdu ketika Bapak Abdul Wahid memimpin tahlil dan doa. Kalimat thayyibah dilantunkan serempak, menguatkan ikatan spiritual di antara jamaah. Doa-doa dipanjatkan, tidak hanya untuk yang telah wafat, tetapi juga untuk keluarga, lingkungan, dan keberkahan hidup bersama.
Sebagai penutup, tausiah yang disampaikan oleh Bapak Agus Irianto, sebab KH Ali Zen tidak hadir. Dengan tutur kata sederhana namun penuh hikmah, beliau mengingatkan pentingnya menjaga taqwa dan persiapan bulan puasa.
Kegiatan Yasinan Jamaah Al-Ikhlas ini menjadi bukti bahwa kebersamaan dalam doa mampu menghadirkan ketenangan yang sulit digantikan. Di tengah hiruk-pikuk dunia, majelis kecil di sudut gang ini justru memancarkan cahaya keikhlasan dan persaudaraan.
Malam itu, dari rumah Bapak Anis, doa-doa melangit. Jamaah pun pulang dengan hati yang lebih lapang, iman yang kembali disegarkan, dan harapan agar majelis penuh berkah ini terus terjaga—menjadi lentera ruhani bagi warga RW 5 dan RW 6, serta bagi siapa saja yang merindukan kedamaian dalam kebersamaan.



0 Komentar