Blitar – Suasana haru menyelimuti Desa Kebon Agung, Kecamatan Wonodadi, Kabupaten Blitar, pada Ahad malam, 15 Februari 2026. Usai adzan maghrib berkumandang, sekitar pukul 18.00 hingga 19.00 WIB, puluhan tamu undangan mulai berdatangan dan menempati ruang tamu yang telah dipersiapkan dengan penuh kesederhanaan namun sarat makna. Tidak kurang 50 tamu undangan hadir.
Malam itu, anak cucu berkumpul dalam satu niat yang sama: menggelar pendaan—sebuah pengingat ingat—untuk kedua orang tua tercinta, almarhum Bapak Kanari dan almarhumah Ibu Marwiyah. Sebuah tradisi yang bukan sekadar seremonial, tetapi menjadi jembatan rindu antara yang masih hidup dan yang telah lebih dahulu kembali ke hadirat Ilahi.
Lampu-lampu rumah menyala temaram. Wajah-wajah penuh khidmat duduk bersila, menundukkan kepala. Dalam hening yang menyentuh, doa pembacaan arwah dilantunkan. Nama Bapak Kanari dan Ibu Marwiyah disebut dengan penuh takzim, seolah menghadirkan kembali kenangan akan senyum, nasihat, dan kasih sayang yang pernah mereka curahkan.
Lantunan tahlil menggema lirih namun menyatu, mengalir seperti arus doa yang tak terputus. Setiap kalimat laa ilaaha illallah terucap dengan getaran hati. Ada yang terisak pelan, ada pula yang memejamkan mata, larut dalam memori masa kecil, dalam pelukan hangat orang tua yang kini hanya tinggal kenangan.
Usai tahlil, doa kembali dipanjatkan. Tangan-tangan terangkat, memohon agar Allah SWT melapangkan kubur keduanya, mengampuni segala khilaf, serta menempatkan mereka di tempat terbaik di sisi-Nya. Malam itu, doa menjadi bahasa cinta yang tak lagi bisa disampaikan secara langsung.
Pendaan ini digelar bukan hanya sebagai bentuk penghormatan, tetapi juga sebagai pengingat bagi generasi penerus tentang pentingnya bakti kepada orang tua. Anak cucu almarhum menunjukkan bahwa cinta tidak berhenti oleh kematian. Justru, ia terus hidup dalam doa-doa yang tak pernah usai.
Setelah rangkaian doa selesai, suasana berangsur hangat. Para tamu dipersilakan menikmati hidangan yang telah disiapkan. Makan bersama menjadi simbol kebersamaan dan persaudaraan antarwarga. Canda ringan mulai terdengar, menghapus sedikit kesedihan yang sempat menyelimuti.
Sebagai penutup, setiap tetangga yang hadir membawa pulang berkat—bingkisan sederhana yang sarat makna. Bukan tentang isi di dalamnya, tetapi tentang nilai kebersamaan, tentang silaturahmi yang terus terjaga, dan tentang doa yang terus mengalir.
Malam itu di Desa Kebon Agung, pendaan bukan hanya menjadi acara rutin. Ia menjelma menjadi pengingat bahwa di balik setiap doa yang terlantun, ada cinta yang tak pernah mati. Cinta seorang anak kepada orang tuanya. Cinta yang terus hidup, bahkan setelah jasad terpisah oleh tanah dan waktu.









0 Komentar