Blitar — Suasana khidmat menyelimuti Musholla Al Hikmah, Jl. Seruni RW 06, Kepanjenkidul, pada Rabu malam, 11 Februari 2026, tepat pukul 19.15 WIB ba’da Isya’. Malam itu bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan momentum istimewa: Lailatul Ijtima’ Ranting NU Kepanjenkidul putaran ke-20, sekaligus penutupan sementara menjelang datangnya Bulan Suci Ramadhan.
Dua puluh putaran bukanlah perjalanan yang singkat. Ia adalah jejak istiqamah, doa yang terus dipanjatkan, dan silaturahmi yang tak pernah terputus.
Acara diawali dengan pembukaan, oleh Abd Umar, menghadirkan ketenangan di tengah lantunan basmalah dan puji syukur kepada Allah SWT.
Suasana semakin syahdu saat KH Sakrip memimpin pembacaan kalimah tahlil dan doa. Lantunan “Laa ilaaha illallah” menggema serempak, mengalirkan getaran spiritual yang menembus relung hati jamaah. Dalam doa yang khusyuk, terpanjat harapan agar segala ujian dan kesulitan yang menimpa umat segera diangkat oleh Allah SWT.
Momen Mahallul Qiyam menjadi titik haru berikutnya. Jamaah berdiri bersama, melantunkan shalawat dengan penuh cinta kepada Rasulullah SAW. Wajah-wajah teduh tampak larut dalam rasa rindu dan syukur.
Sambutan Ta’mir Musholla Al Hikmah, Bapak Abdul Wahid, menjadi pengantar yang hangat sebelum dilanjutkan dengan tausiyah agama oleh Bapak Agus Irianto. Dalam ceramahnya, beliau menyampaikan pesan yang menohok namun penuh kasih: ajakan untuk menjauhi ghibah.
“Ghibah itu ibarat api kecil yang bisa membakar persaudaraan,” pesan beliau. Jamaah terdiam, merenung. Di tengah kehidupan sosial yang mudah tersulut kabar dan cerita, tausiyah ini terasa begitu relevan, mengajak semua untuk menjaga lisan dan memperkuat ukhuwah.
Sambutan Lurah Kepanjenkidul, Bapak Eko Wibowo, menambah bobot kebersamaan malam itu. Beliau menekankan pentingnya silaturahmi dan kajian menjelang bulan puasa, seraya menyampaikan kondisi efisiensi anggaran kelurahan yang mencapai 50 persen.
“Bila nanti gebyar kelurahan terasa sederhana, kami mohon maaf. Namun semangat kebersamaan dan pelayanan kepada masyarakat tetap menjadi prioritas,” tutur beliau dengan penuh keterbukaan.
Sementara itu, perwakilan Syuriah MWC NU Kepanjenkidul menyampaikan doa dan harapan agar segala bencana dan kesulitan yang ada di tengah masyarakat diangkat oleh Allah SWT, diganti dengan keberkahan dan keselamatan.
Sambutan dari Syuriah MWC NU Kepanjenkidul semakin meneguhkan semangat jamaah bahwa Lailatul Ijtima’ bukan sekadar rutinitas, melainkan benteng moral dan spiritual warga Nahdliyin.
Dalam sesi musyawarah, disepakati bahwa rutinan Lailatul Ijtima’ akan ditutup sementara selama bulan Ramadhan, sebagai bentuk penghormatan terhadap kekhusyukan ibadah puasa.
Selain itu, disampaikan pula rencana iuran bersama yang akan mulai dilaksanakan setelah Idul Fitri, demi mendukung keberlangsungan kegiatan ke depan.
Malam itu terasa berbeda. Ada rasa syukur, ada pula haru karena untuk sementara waktu, kebersamaan rutin ini akan berhenti sejenak.
Acara ditutup dengan mushofahah dan foto bersama. Satu per satu jamaah saling bersalaman, menguatkan hati, mempererat tali persaudaraan. Senyum dan pelukan hangat menjadi simbol bahwa ukhuwah tidak akan pernah terputus, meski kegiatan diliburkan sementara.
Lailatul Ijtima’ putaran ke-20 ini menjadi penanda bahwa istiqamah dalam kebaikan adalah kekuatan terbesar umat. Dari Musholla Al Hikmah, doa-doa kembali melangit, menyambut Ramadhan dengan hati yang lebih bersih dan persaudaraan yang semakin kokoh.
Semoga setelah Ramadhan berlalu, majelis penuh berkah ini kembali digelar dengan semangat yang lebih menyala.














0 Komentar