Di suatu masa ketika dunia masih berjalan dalam irama para dewa, kekacauan pernah menyentuh tatanan kosmos. Semua bermula dari Dewi Uma, permaisuri Dewa Siwa, yang karena pelanggaran laku suci harus menerima kutukan. Ia diturunkan ke dunia dan berubah wujud menjadi Dewi Durga, penguasa setra—tanah kuburan, tempat segala yang mati dan tercemar berdiam.
Dalam wujudnya yang mengerikan, Durga bukan sekadar bayangan ketakutan. Ia adalah lambang kekuatan liar, sisi gelap dari semesta yang tak terkendali. Di antara tulang-belulang dan kabut kematian, Durga menunggu saat penebusan. Sebab meski terkutuk, jiwanya tetap suci, terperangkap dalam noda yang belum terangkat.
Sementara itu, di dunia manusia, hiduplah Sahadewa, si bungsu dari Pandawa. Ia bukan yang terkuat atau tersohor dalam peperangan, tetapi batinnya jernih dan tapanya dalam. Para dewa mengetahui: hanya jiwa yang benar-benar suci yang mampu menyentuh kekotoran tanpa ikut ternodai.
Pada suatu malam yang sunyi, Sahadewa dipanggil oleh takdir. Langkahnya membawanya ke setra, tempat yang dijauhi manusia. Angin dingin berdesir, dan dari balik kegelapan muncullah Durga dengan tawa yang mengguncang batin. Namun Sahadewa tidak gentar. Ia menundukkan kepala, bukan karena takut, melainkan karena welas asih.
Durga menguji Sahadewa dengan amarah dan ancaman, sebab kutukan membuatnya terikat pada sifat ganas. Tetapi Sahadewa tidak melawan dengan senjata. Ia duduk bersila, melafalkan mantra penyucian, mengalirkan daya suci dari Siwa sendiri. Air kehidupan disiramkan, doa dipanjatkan, dan laku ruwatan dijalankan dengan keteguhan hati.
Perlahan, kabut setra terbelah. Wujud mengerikan itu runtuh seperti kulit lama yang terkelupas. Dari dalam kegelapan muncul cahaya, dan Durga pun berubah kembali menjadi Dewi Uma, lembut dan bercahaya. Kutukan sirna, mala tersucikan—itulah Sudamala, pembersihan dari segala noda.
Sebagai balasan, Dewi Uma menganugerahkan berkah kepada Sahadewa dan dunia manusia. Keseimbangan kosmos pulih. Kekuatan gelap tidak dimusnahkan, melainkan disadarkan dan disucikan, karena dalam pandangan Jawa Kuno, terang dan gelap adalah dua sisi yang saling melengkapi.
Kisah ini kemudian diabadikan dalam relief batu pada masa Majapahit. Yakni di Candi Tegowangi terletak di Desa Tegowangi, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri. Secara arsitektur, Candi Tegowangi berbentuk bujur sangkar dengan ukuran panjang dan lebar sekitar 11,2 meter, serta tinggi bangunan saat ini kurang lebih 4,35 meter. Setiap panel di Candi Tegowangi bukan hanya cerita, melainkan ajaran: bahwa dunia yang kacau dapat dipulihkan, bahwa dosa dapat ditebus, dan bahwa manusia—bila bersih batinnya—dapat menjadi jembatan antara kekacauan dan harmoni.
Dan hingga kini, Sudamala tetap hidup, bukan sekadar sebagai kisah wayang, melainkan sebagai pengingat abadi tentang penyucian jiwa, keseimbangan semesta, dan harapan akan pemulihan.


0 Komentar