Surabaya, 14 Mei 2025 – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Direktorat Guru Pendidikan Dasar (Dit. Guru Dikdas), Direktorat Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru (Ditjen GTKPG), menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Koding dan Kecerdasan Artifisial (KA) bagi calon pengajar bidang teknologi digital. Kegiatan ini dilaksanakan secara serentak di Surabaya dan menjadi bagian dari agenda nasional penguatan kompetensi guru di era transformasi digital.
Pada kesempatan tersebut, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menekankan bahwa penguasaan teknologi digital harus berjalan seiring dengan penguatan etika dan nilai kemanusiaan. Menurutnya, koding dan kecerdasan artifisial bukan sekadar tambahan mata pelajaran, melainkan sarana untuk membangun pola pikir logis, kritis, dan inovatif pada peserta didik.
“Pembelajaran koding dan KA ini bukan hanya mata pelajaran tambahan, tetapi prinsip-prinsip berpikirnya dapat diterapkan dalam pelajaran lain. Bukan sekadar hafalan, melainkan logika dan berpikir kritis yang akan membentuk generasi bangsa yang adaptif dan inovatif,” tutur Abdul Mu’ti.
Kegiatan Bimtek ini dihadiri oleh jajaran pejabat di lingkungan Ditjen GTKPG, para narasumber, fasilitator, serta peserta Training of Trainer (ToT) dari wilayah Jawa Timur dan sekitarnya. Sejak pertama kali dilaksanakan pada April 2025, program ini telah menjangkau lebih dari 1.325 calon pengajar, dengan proyeksi total peserta mencapai 2.707 orang hingga Batch 5.
Dalam pelatihan ini, Abdullah Umar S.Kom. M.Pd bersama Abd Charis Fauzan, M.Kom , saebagai salah satu peserta peserta dibekali materi penguasaan dasar teknologi digital, meliputi literasi digital, pemrograman, algoritma, serta etika penggunaan teknologi. Penyampaian materi dilakukan secara terpadu melalui teori, praktik langsung, serta pemanfaatan Learning Management System (LMS) Ruang GTK. Para lulusan Bimtek selanjutnya akan berperan sebagai fasilitator dalam pelatihan yang ditujukan bagi 59.546 sekolah penerima Dana BOS Kinerja periode 2025.
Abdul Mu’ti menegaskan bahwa integrasi teknologi dalam pembelajaran harus mempertimbangkan kesiapan sekolah serta diterapkan secara inklusif dan adaptif. “Teknologi dalam penggunaannya harus tetap berlandaskan pada tata nilai dan peradaban,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti pentingnya membangun ekosistem pembelajaran digital yang berkelanjutan. Menurutnya, kemampuan guru dalam memadukan materi teknologi dengan mata pelajaran lain akan membantu peserta didik menghadapi tantangan global dan kehidupan nyata di luar ruang kelas.
Lebih lanjut, Abdul Mu’ti mengingatkan bahwa fasilitator memiliki peran strategis sebagai agen transformasi pendidikan. “Mereka ibarat pemancar yang harus memahami substansi materi, nilai-nilai etika, dan metode transfer pengetahuan. Kesalahan pemahaman akan berdampak serius terhadap kualitas pembelajaran,” tegasnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal GTKPG, Nunuk Suryani, dalam laporannya menyampaikan bahwa Bimtek Koding dan KA tidak hanya berfokus pada peningkatan kemampuan teknis, tetapi juga pada penguatan metodologi pembelajaran yang interaktif serta pengembangan karakter guru yang adaptif.
“Bimtek ini bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan penguatan nilai-nilai pendidikan dan profesionalisme guru dalam menghadapi perubahan zaman,” ujarnya.
Dengan mengusung semangat transformasi pendidikan, Kemendikdasmen menegaskan komitmennya untuk mewujudkan sistem pendidikan yang adaptif, inklusif, dan berkualitas. Evaluasi yang ketat diterapkan untuk memastikan para lulusan benar-benar kompeten dan profesional.
Sebagai penutup, Abdul Mu’ti mengajak seluruh peserta dan pemangku kepentingan untuk memanfaatkan momentum ini demi kemajuan pendidikan nasional.
“Mari belajar dengan cerdas dan sabar, koding dan kecerdasan artifisial untuk bangsa yang lebih maju dan strategis,” pungkasnya.
Berikut dokumentasi yagn berhasil dihimpun
.jpeg)

.jpeg)

.jpeg)









.jpeg)





0 Komentar