Kitab Shahih al-Bukhari merupakan salah satu rujukan utama umat Islam Ahlussunnah wal Jama’ah. Di lingkungan pesantren Nahdlatul Ulama, kitab ini tidak hanya dibaca sebagai kumpulan hadis, tetapi juga sebagai pedoman adab, akhlak, dan tata kehidupan bermasyarakat.
Dalam Shahih Bukhari Jilid 1–2 Makna Petuk, Imam al-Bukhari menempatkan hadis-hadis adab sejak awal pembahasan. Ini menunjukkan bahwa ilmu tanpa adab tidak memiliki nilai, dan pergaulan sosial harus dibangun di atas akhlak mulia.
Konsep Adab dalam Shahih Bukhari
Dalam dokumen ini, adab dipahami sebagai:
Sikap batin yang melahirkan perilaku lahir
Tata krama terhadap Allah, Rasul, dan sesama manusia
Cermin keimanan seseorang
Imam al-Bukhari memulai kitabnya dengan Kitab al-‘Ilm, yang menegaskan bahwa:
Menuntut ilmu harus disertai adab, tawadhu’, dan penghormatan kepada guru serta orang yang lebih tua.
Hal ini sejalan dengan tradisi pesantren yang selalu mendahulukan ta’dzim (penghormatan) sebelum penguasaan ilmu.
Adab Pergaulan dengan Orang yang Lebih Tua
Salah satu pesan kuat dalam Shahih Bukhari adalah keharusan menghormati orang yang lebih tua, baik dalam keluarga maupun masyarakat.
Hadis-hadis dalam kitab al-Adab menegaskan bahwa:
Menghormati orang tua dan orang yang lebih tua adalah bagian dari iman
Tidak menghormati yang tua termasuk ciri rusaknya akhlak
Adab ini mencakup ucapan, sikap tubuh, dan perilaku sosial
Makna petuk dalam dokumen ini memperjelas bahwa:
Menghormati orang yang lebih tua bukan sekadar sopan santun budaya, tetapi perintah agama yang bernilai ibadah
Bentuk-Bentuk Adab Pergaulan yang Ditekankan
Berdasarkan isi Jilid 1–2, adab terhadap orang yang lebih tua meliputi:
Adab berbicara
Tidak memotong pembicaraan
Menggunakan bahasa yang lembut
Mendahulukan pendapat orang tua
Adab bersikap
Tidak berjalan di depan dengan sombong
Duduk lebih rendah atau sejajar dengan sopan
Mendahulukan dalam majelis
Adab sosial
Menghargai pengalaman dan nasihat
Tidak meremehkan karena perbedaan usia atau pendapat
Menjaga perasaan dan kehormatan
Semua ini diperkuat oleh penjelasan makna gandul yang berfungsi mendekatkan pemahaman santri terhadap maksud hadis.
Relevansi dengan Kehidupan Masyarakat Modern
Meskipun ditulis lebih dari seribu tahun lalu, ajaran Shahih Bukhari tetap relevan:
Di kampus: menghormati dosen dan senior
Di masyarakat: menghargai tokoh adat dan sesepuh
Di keluarga: menjaga tutur kata kepada orang tua
Tradisi NU melihat hadis-hadis ini sebagai pilar moderasi sosial, yang mencegah konflik dan kesombongan generasi muda.
Dokumen Shahih Bukhari Jilid 1–2 Makna Petuk menegaskan bahwa adab adalah ruh dari pergaulan Islam. Menghormati orang yang lebih tua bukan hanya nilai budaya, tetapi ajaran Rasulullah ï·º yang bersumber dari hadis sahih.
Melalui pendekatan pesantren dan makna petuk, kitab ini menjadi jembatan antara teks hadis dan praktik kehidupan nyata umat Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.

0 Komentar